Keutamaan Istighfar, Kisah Hasan Al-Bashri
Menurut Muyassaroh, istighfar memiliki banyak keutamaan. Pertama adalah menghapus dosa. “Allah tidak menyiksa kita tapi mengampuni dosa kita,” terangnya.
Dia kemudian mengutip al-Anfal ayat 33: “Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.”
Kedua, membuka pintu rezeki. “Jadi istighfar juga membuka pintu rezeki,” ujarnya.
Muyassaroh mengisahkan ulama bernama Hasan Al-Bashri yang ditanya oleh murid-muridnya tentang permasalahan yang sedang menimpa muridnya.
“Wahai sang guru, saya ini ditimpa paceklik panjang, kering kerontang kebun saya, tidak bisa hidup. Ekonomi saya merugi. Mohon solusinya. Lalu jawab Hasan Al-Bashri: bacalah istighfar.
Datang lagi penanya kedua, wahai guru saya sudah menikah, namun belum dikaruniai Allah keturunan. Lalu dijawab lagi: bacalah istighfar.
Datang lagi ketiga: wahai guru, tanaman saya hijau subur tapi tidak ada buahnya, mohon solusi. Dijawab lagi: bacalah istighfar.”
Hassan Al-Bashri pun menjelaskan mengapa ia mengucapkan istighar.
“Bukan aku yang mengatakan, tapi itu Allah. Terdapat di dalam Nuh ayat 10-12”.
Yang artinya: “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”
Kisah Imam Ahmad bin Hanbal
Ketiga, dimudahkan segala urusan. Siapa yang terusmenerus beristighfar akan dimudahkan segala urusan. “Tapi istighfarnya harus tulus dari dalam. Tidak boleh istighfar sambil senyum-senyum nonton TV. Jadi istighfar harus khusyu’ biar meresap dari lubuk hati paling dalam,” terangnya.
Muyassaroh pun menunjukkan sebuah hadis: ”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah SWT akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka,” (HR Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
Menurut dia nanyak sekali problematika kehidupan, baik dari anak maupun suami. Dengan istighfar insyaallah akan diberikan jalan keluar. “Jangan sampai dengan adanya masalah malah membuat down dan stress,” ungkapnya.
Dia kemudian mengutip ath-Thalaq ayat 23: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”
Muyassaroh kemudian memberikan contoh dahsyatnya Istighfar yang terdapat dalam kisah Imam Ahmad bin Hanbal dan tukang roti.
“Suatu sore beliau ingin jalan-jalan ke wilayah Syam, padahal Damaskus dan Syam itu jauh. Beliau berjalan saja. Akhirnya tiba waktu shalat, beliau shalat di masjid. Begitu sudah Isya’ Imam Ahmad masih di dalam masjid. Oleh marbot masjid dikatakan, ‘permisi ya Syaikh, masjid mau saya tutup.’”
“Mohon maaf saya ingin tidur di sini. Karena aku seorang musafir.” Karena tidak boleh, kemudian diusir dari masjid.
Di depan masjid ada tukang roti, “Wahai musafir, kemarilah, di dalam rumahku ada kamar kosong satu. Silakan ke rumahku.”
Begitu masuk, ternyata tukang roti ini senantiasa beristighfar sambil membuat roti. “Yang kamu ucapkan itu bagus sekali, apa manfaatnya?”
“Masyaallah ya Syaikh, semua keinginan saya dikabulkan semua.”
“Apa keinginanmu yang belum dikabulkan Allah?”
“Yang belum dikabulkan hanya satu, kepengen ketemu Imam Ahmad bin Hanbal dari Damaskus.”
“Masyaallah, istighfarmu ini yang menuntun aku ke sini.”
Kisah Dokter Pakistan
Setelah mengisahkan tentang Imam Ahmad dan istighfarnya tukang roti, Muyassaroh membagikan satu kisah lagi.
“Ada dokter yang terkenal dari Pakistan. Suatu ketika diundang seminar, keluar melewati Kashmir. Tiba-tiba di bandara sudah naik pesawat.”
“Mohon maaf pesawat ini keberangkatannya tertunda karena ada kerusakan sedikit.”
Akhirnya dianjurkan naik taksi. Namun kondisi saat itu hujan lebat, tidak bisa melanjutkan perjalanan.
Taksi tersebut kemudian berhenti di rumah tua. “Permisi Nek, saya mau numpang.”
Nenek tua kemudian mempersialakan masuk dan tak lama kemudian izin shalat tapi shalatnya sangat lama.
“Permisi Nek, saya perhatikan, doa nenek kok khusyuk sekali, terus saya kok mendengar anak perempuan nangis Nek,” tanya dokter tersebut.
“Begini Nak, yang nangis itu cucu nenek. Ayah ibunya sudah meninggal,” jawab sang nenek.
“Sakit apa Nek?” tanya sang dokter.
“Sudah lama Nak, tapi dokter bilang, tidak bisa disembuhkan di puskesmas. Harus dibawa ke rumah sakit dan ditangai oleh dokter khusus Nak. Dokter tulang, namanya Dokter Ihsan.”
Dan ternyata dokter tersebut lah yang bernama Ihsan dari negri seberang.
Musyasaaroh kemudian menjelaskan manfaat istighfar lainnya. “Di samping menghapus dosa, melancarkan rezeki, dan mempermudah urusan adalah mendapat kelapangan hidup di dunia dan akhirat,” tandasnya.
Ia kemudian mengutip Hud ayat 3. “Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berbuat baik. Dan jika kamu berpaling, maka sungguh, aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat).”
MaasyaaAllah
BalasHapusMASYAALLAH FULL SENYUM
Hapus